Sosis#41: Hutan Rakyat

SOSIS ALA HUTAN RAKYAT

—————————————————————————————————————————————–

CILACAP, KOMPAS.com — Gerakan penanaman pohon berdampak signifikan pada perluasan hutan rakyat di Jawa Tengah. Jika pada 2010 luas hutan rakyat di provinsi itu  berkisar 412.980,69 hektar, kini telah mencapai 742.923 hektar.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Jateng Oman Djuanam, Jumat (21/12/2012), di sela-sela Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, Bulan Menanam Nasional, dan Kampanye Indonesia Menanam Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 di Desa Pangawaren, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap.

——————————————————————————————————————————————

Selamat pagi rekan-rekan semuanya..Semoga sehat selalu

Agar semakin segar paginya, saya akan menyajikan menu ringan yakni sosis ala hutan rakyat. Sebagai makanan pembuka menu sosis kali ini  saya menampilkan cuplikan berita terkait hutan rakyat yang dimuat pada harian kompas 21 Desember 2012. Dari sepenggal berita tersebut ada dua hal penting yang saya tarik yakni perluasan hutan dan hutan rakyat.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan hutan rakyat itu ? . Jika kita menilik Undang-Undang yakni UU no. 41 tahun 1999, Hutan rakyat didefinisikan sebagai hutan  hutan yang dimiliki rakyat dengan luas minimal 0,25 Ha yang ditutupi oleh tanaman dari jenis kayu-kayuan atau jenis lainnya. Hutan rakyat umumnya berada di tanah pribadi atau tanah adat.

Hutan Rakyat dan Investasi

Pada harian di atas, digadang-gadang adanya gerakan menanam pohon menyebabkan peningkatan luasan hutan rakyat. Namun menurut saya, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Alasan utama dari peningkatan luasan hutan rakyat terutama di pulau jawa adalah geliat investasi dibidang kayu semakin besar. Coba saja jika rekan-rekan mencoba mengetik kata hutan rakyat di situs pencarian google, beberapa artikel tentang investasi kayu akan turut muncul di situ. Terlebih dalam tiga tahun kebelakang ini, muncul primadona baru spesies yang diprediksi mampu  memberikan untung besar bagi para pemilik hutan rakyat yakni kayu jabon.

Selain jabon yang ngetop sebagai jenis yang ditanam di lahan hutan rakyat, sebenarnya banyak jenis kayu yang banyak ditanam di  hutan rakyat antara lain Akasia, Jati, Mahoni, Sengon dan Sonokeling. Terkecuali jati, jenis- jenis tersebut adalah jenis tanaman cepat tumbuh dengan daur tebang yang singkat (< 10 tahun) . Harga bibit pohon yang murah, biaya maintenance rendah, perawatan yang mudah dan harga jual yang tinggi adalah faktor-faktor yang mendorong banyak orang beramai-ramai turut serta dalam “bisnis” hutan rakyat ini dan mendorong meningkatnya perluasan hutan rakyat ini.

Sebagai gambaran mudah , untuk lahan 1/2 hektar m2, jumlah pohon sengon yang bisa ditanam adalah sekitar 700 pohon. Harga jual sengon persatu pohonnya untuk daur tebang 5 tahun kira-kira 500 rb perbatang dikurangi sedikit untuk pembelian pupuk kandang  dan perawatan ringan seperti penjarangan. Bisa dihitung kira-kira berapa untung yang nanti didapat. Terlebih lagi dengan trend kenaikan harga jual kayu yang cenderung mengalami kenaikan tiap tahun.

Hutan Rakyat dan Isu Lingkungan  

Selain faktor investasi, faktor lingkungan juga didapuk menjadi pendorong peningkatan luasan hutan rakyat. Hutan rakyat dengan vegetasi pohon di dalamnya, disebut sebagi salah satu alternative rehabilitasi hutan karena pada umumnya, lahan hutan rakyat awalnya adalah lahan-lahan terbengkalai yang kemudian dikonversi menjadi hutan rakyat.

Saat isu karbon sangat popular, banyak sekali penelitian yang mengkaitkan hutan rakyat dengan karbon. Data berikut adalah kemampuan menyimpan karbon dari  beberapa jenis yang ditanam di lahan hutan rakyat :

sosishutanPernah juga saya membaca tentang adanya wacana kompensasi bagi warga yang mempraktekkan hutan rakyat di lahan pribadinya berdasarkan serapan karbon tanaman yang ada. Berbagai perhitungan telah dilakukan di atas kertas dengan angka rupiah yang menggiurkan. Tapi hingga sekarang, saya belum menemukan lagi update tentang pelaksanaan skema ini.

Meskipun kompensasi karbon tentang pembiayaan hutan rakyat ini belum jelas dan terkesan Berjaya di atas kertas saja, namun saya percaya menanam itu tak ada ruginya. Menanam pohon dalam islam juga disebut sebagi sedekah seperti yang dikatakan Rasul dalam hadistnya sebagai berikut :

“ Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro'ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)].

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim ]

Maka jika kita sedekah dengan menanam pohon, sedekahnya terus menerus berlipat sejak kita menanam pohon karena manfaatnya bagi manusia, hewan, dan lingkungan sekitar hingga pohon tersebut mati atau  berkembang. Apalagi jika pohonnya banyak dalam bentuk hutan rakyat .

Ah berasa kampanye, Tapi siapa tahu dengan menyantap sosis pagi ini rekan-rekan yang memiliki  tanah kosong dan berencana untuk memiliki sebidang lahan bisa terdorong untuk menanam pohon jenis apapun, baik untuk dijual nantinya atau sekedar sedekah.

Selamat Menanam Pohon ^^

Salam,

Safinah

Leave a Reply